...
Pandanganku menyapu keluar halaman dari jendela kantin. Daun-daun mulai berguguran. Ah iya, Oktober. Apa di luar sana sedang musim gugur? Tak terbayang indahnya guguran angsana dan daun yang tertiup angin. Ah romantis.
Seseorang duduk di hadapanku. Tatapanku masih tertuju pada halaman dan daun yang berguguran. Perhatianku masih tersita ke sana. Mungkin itu hanya Rafa. Dia pasti sudah bosan dengan cewek-cewek itu. Aku berencana menutup telingaku jika dia bercerita tentang kelakuan mereka.
"Kenapa? Udah bosen sa..." kata-kataku terhenti ketika menoleh dan menyadari siapa di hadapanku. Tebakanku salah. Salah besar. Dia bukan Rafa! Tenggorokanku tercekat. Jantungku berdebar kencang. Rasanya badan ini tak mau bergerak.
"Ran..."
Suara yang familiar. Suara yang pernah kudengar. Suara yang sama yang meremukkan jantungku beberapa bulan lalu. Suara yang aku harap tak pernah kudengar lagi.
"Ran..." Dia memanggilku untuk yang kedua kalinya.
Siapapun, tolong... Dadaku sesak sekali. Tolong bawa aku lari dari sini! Tolong sadarkan aku dari mimpi buruk ini. Aku mohon... Badanku terasa gemetar tapi lemah. Terlalu lemah bahkan untuk merapatkan bibirku.
"K..."
...
Part 1: Getting Closer
Page 24-25
on Mirror by Titis Diyah
0 komentar:
Posting Komentar