Chapter 2

...

Ya, aku muak! Kedatanganku ke sini tidak untuk mencari masalah. Atau membuat -karena sepertinya itu lebih tepat. Entahlah tapi kejadian-kejadian ini seperti sudah ada dalam skenario. Tentu saja sudah. Maksudku semua seperti kebetulan. Oke berapa ribu sekolah di negara ini dan aku harus terdampar di sini? Dengan manusia-manusia ini? Sebagian dari mereka memang datang duluan, tapi sebagian lagi datang tidak diundang. Aku tidak peduli seberapa bagusnya tempat ini tapi bagiku seperti panggung teater. Teater murahan.

Aku sedang memakan saladku di kantin ketika pertama kali menyadari Rafa mulai bertingkah aneh. Sejak hari itu dia tak lagi membiarkanku berkeliaran sendiri. Bahkan sering sekali dia kedapatan memandangiku. Tentu saja kulempar dengan apapun. Pensil, bolpen, penghapus, bahkan buku.

Rafa tidak benar-benar menikmati makanannya. Tangannya hanya sesekali menyendok dan memasukkan ke mulutnya. Selebihnya hanya mengaduk-ngaduk tak jelas. Matanya sedang tidak fokus. Sedetik melirik ke kanan, ke kiri, atas, bawah, dan berakhir ke mataku.

“Apa?” tanyanya gusar mendapati tatapan tajamku.

Alih-alih menjawab, aku kembali memakan saladku. Dia aneh sekali. Sama anehnya dengan tatapan seisi kantin. Well, aku terbiasa dengan tatapan macam itu sejak pertama kali datang. Tapi ada yg beda. Mereka seperti siap melempar pisau padaku. Gadis di meja sebelah berbisik-bisik kelewat keras. Mereka membicarakan wajah tampan saudaraku yang berdarah waktu itu. Menyayangkan bekas yang ditinggalkan. 

“Jangan dengerin. Aku tetep ganteng kok. Besok juga ilang lukanya.” Rafa menyeletuk padaku dengan level kepercayaan diri di atas Myung Soo, salah satu pemain di drama favoritku.

Aku kembali meliriknya. Menggenggam garpu di tanganku kuat-kuat dan menatapnya tajam.

“Kamu ngga mau nusuk aku pake itu kan?”

“Patut dicoba.”

...


Part 2: Awake
Page 33-34
on Mirror by Titis Diyah

0 komentar:

Posting Komentar