Hari yang melelahkan. Sangat. Kembali harus kuhapus beberapa jadwal yg telah kususun sejak malam tadi. Kembali mengalah pada tubuhku. Memberinya kesempatan untuk "memperbaiki" stamina setelah kemarin kuliah, rapat dan segala tetek bengeknya seharian penuh. Lelah. Sangat. Tumbang. Bisa jadi. Menyerah. Belum. Aku masih bertahan dengan segala kekacauan di bulan ini. Aku tau aku akan mengalaminya. Setidaknya begitulah "ucap" tulisan-tulisan di time table. Beberapa coretan menandakan "penderitaan berakhir". Tapi hey, ini baru minggu kedua................................
Ini baru minggu kedua dan semangatku mulai kendor. Mungkin aku mulai lelah. Ah rasanya juga selalu seperti itu. Mengapalah aku selalu mengeluhkan hal yang sama setiap saat. Seperti belum berkaca. Mungkin aku terlalu bodoh bahkan untuk menemukan solusinya saja tidak becus. Mungkin juga Tuhan memberikannya dalam porsi yg berbeda. Tapi aku selalu berbaik sangka pada takdir-Nya. Pada skenario-Nya.
Dari ratusan bahkan ribuan skenario-Nya yang telah aku jalani, aku menyukai skenario dimana Dia meletakkanku pada tempat yang kuminta. Pada tempat yang entah dari sudut mana aku sangat yakin akan kuletakkan hatiku padanya. Pada tempat yang sejak awal telah menyilaukan mataku. Bukan. Membuatnya berbinar lebih tepatnya. Pada tempat yang membuatku menerka-nerka "keasyikan" yang akan kudapat dan juga manfaatnya bagi skenario-Nya untukku di masa depan. Ya, tempat itu adalah Kementerian Sosial Badan Eksekutif Mahasiswa FK UNS :)
Aku baru saja pulang dari desa binaan kami saat menulis catatan ini. Desa? Iya desa. Kami baru saja membicarakan program kerja yang akan dijalankan di sana bersama kader-kader desa. Saat berjalan pulang dari mushola kami disapa adik kecil, siswa di SD tempat kami memberikan pengajaran. Kemudian kami membaur bersama ibu-ibu kader. Bercanda, berdiskusi, bercerita, berkeluh kesah, berfoto. Bahkan tawaku pecah saat seorang ibu menyeletuk "Aku mau di sini kok foto sebelahnya Mas Mappa." Setidaknya ibu itu tidak salah pilih. Hahaha :D
Rasanya? Tak terungkapkan. Menyenangkan sekali bisa berbaur bersama mereka, mendapat kepercayaan mereka, dukungan mereka, dan disisi lain, kasih sayang mereka :) Betapa lucunya mendengarkan gurauan mereka yang kadang mencairkan suasana. Atau celetukan Ari yg tidak terima ibu-ibu lebih memilih berfoto sebelah Mas Mappa daripada di sebelahnya. Rasanya tidak ada tembok pembatas seperti yg selama ini kami takutkan.
Rasanya membuatku merindukan rumah...
Aku rindu celetukan bubun yang seperti celetukan ibu-ibu itu. Lucu. Memecah tawa. Adalah kesedihan dan kesepian yg pertama kali terusir. Aku rindu cubitannya di hidungku dan candaannya "kok kamu cantik sih mba niru siapa?" yang kemudian aku jawab "niru mbah uti lah siapa lagi." lalu dengan gemasnya bubun mencubit pipiku sambil tertawa.
Atau saat aku menyeletuk pada bapak "Pah titis cantik yaa?" yang kemudian dijawabnya "Cantik tapi ngangkat sapu aja belum kuat." lalu aku merengek sambil tertawa dan meninju-ninju perutnya.
Atau saat dede dengan santainya tiduran di pangkuanku menonton TV sambil mengomentari setiap jenis tayangan yg ditontonnya. Berteriak sendiri, kemudian uring-uringan tidak jelas. Kadang menyeletuk "Mba aku sama itu sih ganteng mana?"
Aku rindu rumah...
Saat segala keruwetan bercampur jadi satu aku hanya bisa menangis kelelahan. Rasanya berat bahkan hanya untuk bernafas sekalipun. Dari segala kegilaan di otakku yang terpikir hanya aku perlu refreshing. Sesuatu yg bisa menyegarkan pikiranku. Atau setidaknya melonggarkan hariku sehingga aku bisa bernafas sedikit lega. Dan ternyata hal-hal kecil di sini bisa mewujudkannya.
Hal-hal kecil seperti SMS dari Mba Alifa yg seringnya berisi "Dek Tis, Dek Med, Dek Ari, Dek Get, Dek Adet, kalian lagi apa? Tetiba kangen kalian." Rasanya seperti punya kakak perempuan yg benar-benar menyayangi adiknya. Siapa orang yg tidak senang diperhatikan?
Atau gurauan Mba Laras yg kekanakan dan lucu. Omelannya, semangatnya, nasihatnya. Seperti seorang ibu yg pusing mengejar-ngejar anaknya yg bandel-bandel. Yg dikejar malah tertawa-tawa senang dengan ulah ibunya. Iya menteri kami, Mama Laras.
Atau celetukan Bang Ipin yg selalu menjurus pada pembullyan massal. Haha jahat. Entah darimana dia belajar melawak, tapi celetukannya selalu menyegarkan. Dari segala hal dia seperti sejenis motivator otodidak. Aku banyak belajar darinya terutama masalah LDR. Karena sejauh ini kelihatannya LDRnya berhasil.
Atau kenarsisan Mas Yasyfie yg tersohor ke segala penjuru FK. Entah makhluk jenis apa dia aku pun tidak paham.
Atau muka lusuhnya Mas Mappa yg jadi bahan candaan karena kadang mandi dan tidak mandi itu sama saja. Ada yg tau dimana yg jualan setrikaan wajah?
Atau lugunya Mba Naila yg kadang terlambat menertawakan sesuatu yg lucu karena tidak mengerti. Kemudian minta dijelaskan, kemudian baru tertawa saat yg lain sudah selesai tertawa.
Atau baiknya Mba Ida yg selalu jadi bandar Drama Korea. Aku tak perlu repot mendownload atau mencari-cari orang yg punya Drama Korea terbaru, dia pasti selalu update!
Atau absurdnya Memed yg kadang krik tapi membuat kami tertawa. Kostnya adalah tempat penampungan saat kostku sudah dikunci.
Atau polosnya Ari yg selalu jadi bulan-bulanan kami semua. Polos, sangat. Dia seperti mainan kesukaannya Bang Ipin. Mudah percaya pada segala yg dikatakannya. Dan jadilah kami tertawa atas kepolosannya yg tidak sadar sedang dibohongi.
Atau nyebelinnya Gegget yg selalu menjawab setiap kata yg aku ucapkan. Atau menirukan kata-kataku. Atau mengataiku lebay.
Atau ekspresi datarnya Adet yg kadang mengundang kebingungan apakah dia sedang galau atau bahagia. Dia sering membuat kami menjadi dukun.
Tempat berkeluh kesah, pemberi semangat, penghibur saat aku mulai lelah. Saat aku tersesat dan tenggelam dalam segala masalah dan kegalauan. Saat aku merasa sendiri di negeri antah berantah. It feels like home...