It Feels Like Home

0 komentar
Hari yang melelahkan. Sangat. Kembali harus kuhapus beberapa jadwal yg telah kususun sejak malam tadi. Kembali mengalah pada tubuhku. Memberinya kesempatan untuk "memperbaiki" stamina setelah kemarin kuliah, rapat dan segala tetek bengeknya seharian penuh. Lelah. Sangat. Tumbang. Bisa jadi. Menyerah. Belum. Aku masih bertahan dengan segala kekacauan di bulan ini. Aku tau aku akan mengalaminya. Setidaknya begitulah "ucap" tulisan-tulisan di time table. Beberapa coretan menandakan "penderitaan berakhir". Tapi hey, ini baru minggu kedua................................

Ini baru minggu kedua dan semangatku mulai kendor. Mungkin aku mulai lelah. Ah rasanya juga selalu seperti itu. Mengapalah aku selalu mengeluhkan hal yang sama setiap saat. Seperti belum berkaca. Mungkin aku terlalu bodoh bahkan untuk menemukan solusinya saja tidak becus. Mungkin juga Tuhan memberikannya dalam porsi yg berbeda. Tapi aku selalu berbaik sangka pada takdir-Nya. Pada skenario-Nya.

Dari ratusan bahkan ribuan skenario-Nya yang telah aku jalani, aku menyukai skenario dimana Dia meletakkanku pada tempat yang kuminta. Pada tempat yang entah dari sudut mana aku sangat yakin akan kuletakkan hatiku padanya. Pada tempat yang sejak awal telah menyilaukan mataku. Bukan. Membuatnya berbinar lebih tepatnya. Pada tempat yang membuatku menerka-nerka "keasyikan" yang akan kudapat dan juga manfaatnya bagi skenario-Nya untukku di masa depan. Ya, tempat itu adalah Kementerian Sosial Badan Eksekutif Mahasiswa FK UNS :)

Aku baru saja pulang dari desa binaan kami saat menulis catatan ini. Desa? Iya desa. Kami baru saja membicarakan program kerja yang akan dijalankan di sana bersama kader-kader desa. Saat berjalan pulang dari mushola kami disapa adik kecil, siswa di SD tempat kami memberikan pengajaran. Kemudian kami membaur bersama ibu-ibu kader. Bercanda, berdiskusi, bercerita, berkeluh kesah, berfoto. Bahkan tawaku pecah saat seorang ibu menyeletuk "Aku mau di sini kok foto sebelahnya Mas Mappa." Setidaknya ibu itu tidak salah pilih. Hahaha :D

Rasanya? Tak terungkapkan. Menyenangkan sekali bisa berbaur bersama mereka, mendapat kepercayaan mereka, dukungan mereka, dan disisi lain, kasih sayang mereka :) Betapa lucunya mendengarkan gurauan mereka yang kadang mencairkan suasana. Atau celetukan Ari yg tidak terima ibu-ibu lebih memilih berfoto sebelah Mas Mappa daripada di sebelahnya. Rasanya tidak ada tembok pembatas seperti yg selama ini kami takutkan. 

Rasanya membuatku merindukan rumah...

Aku rindu celetukan bubun yang seperti celetukan ibu-ibu itu. Lucu. Memecah tawa. Adalah kesedihan dan kesepian yg pertama kali terusir. Aku rindu cubitannya di hidungku dan candaannya "kok kamu cantik sih mba niru siapa?" yang kemudian aku jawab "niru mbah uti lah siapa lagi." lalu dengan gemasnya bubun mencubit pipiku sambil tertawa.

Atau saat aku menyeletuk pada bapak "Pah titis cantik yaa?" yang kemudian dijawabnya "Cantik tapi ngangkat sapu aja belum kuat." lalu aku merengek sambil tertawa dan meninju-ninju perutnya. 

Atau saat dede dengan santainya tiduran di pangkuanku menonton TV sambil mengomentari setiap jenis tayangan yg ditontonnya. Berteriak sendiri, kemudian uring-uringan tidak jelas. Kadang menyeletuk "Mba aku sama itu sih ganteng mana?" 

Aku rindu rumah...

Saat segala keruwetan bercampur jadi satu aku hanya bisa menangis kelelahan. Rasanya berat bahkan hanya untuk bernafas sekalipun. Dari segala kegilaan di otakku yang terpikir hanya aku perlu refreshing. Sesuatu yg bisa menyegarkan pikiranku. Atau setidaknya melonggarkan hariku sehingga aku bisa bernafas sedikit lega. Dan ternyata hal-hal kecil di sini bisa mewujudkannya.

Hal-hal kecil seperti SMS dari Mba Alifa yg seringnya berisi "Dek Tis, Dek Med, Dek Ari, Dek Get, Dek Adet, kalian lagi apa? Tetiba kangen kalian." Rasanya seperti punya kakak perempuan yg benar-benar menyayangi adiknya. Siapa orang yg tidak senang diperhatikan?

Atau gurauan Mba Laras yg kekanakan dan lucu. Omelannya, semangatnya, nasihatnya. Seperti seorang ibu yg pusing mengejar-ngejar anaknya yg bandel-bandel. Yg dikejar malah tertawa-tawa senang dengan ulah ibunya. Iya menteri kami, Mama Laras.

Atau celetukan Bang Ipin yg selalu menjurus pada pembullyan massal. Haha jahat. Entah darimana dia belajar melawak, tapi celetukannya selalu menyegarkan. Dari segala hal dia seperti sejenis motivator otodidak. Aku banyak belajar darinya terutama masalah LDR. Karena sejauh ini kelihatannya LDRnya berhasil.

Atau kenarsisan Mas Yasyfie yg tersohor ke segala penjuru FK. Entah makhluk jenis apa dia aku pun tidak paham.

Atau muka lusuhnya Mas Mappa yg jadi bahan candaan karena kadang mandi dan tidak mandi itu sama saja. Ada yg tau dimana yg jualan setrikaan wajah?

Atau lugunya Mba Naila yg kadang terlambat menertawakan sesuatu yg lucu karena tidak mengerti. Kemudian minta dijelaskan, kemudian baru tertawa saat yg lain sudah selesai tertawa.

Atau baiknya Mba Ida yg selalu jadi bandar Drama Korea. Aku tak perlu repot mendownload atau mencari-cari orang yg punya Drama Korea terbaru, dia pasti selalu update!

Atau absurdnya Memed yg kadang krik tapi membuat kami tertawa. Kostnya adalah tempat penampungan saat kostku sudah dikunci.

Atau polosnya Ari yg selalu jadi bulan-bulanan kami semua. Polos, sangat. Dia seperti mainan kesukaannya Bang Ipin. Mudah percaya pada segala yg dikatakannya. Dan jadilah kami tertawa atas kepolosannya yg tidak sadar sedang dibohongi.

Atau nyebelinnya Gegget yg selalu menjawab setiap kata yg aku ucapkan. Atau menirukan kata-kataku. Atau mengataiku lebay.

Atau ekspresi datarnya Adet yg kadang mengundang kebingungan apakah dia sedang galau atau bahagia. Dia sering membuat kami menjadi dukun.

Tempat berkeluh kesah, pemberi semangat, penghibur saat aku mulai lelah. Saat aku tersesat dan tenggelam dalam segala masalah dan kegalauan. Saat aku merasa sendiri di negeri antah berantah. It feels like home...


Why It Has to be Kartini?

0 komentar
Hello. Happy 21st April. Happy Katini's day! Hehe. I wanna wear Kebaya here :D Sayang sekali tidak ada peraturan yg mewajibkan mahasiswa memakai kebaya. Atau, tidak di fakultasku lebih tepatnya. Tapi ribet banget pasti dah ngampus pake kebaya gituan, sanggul, jilbab njlimet, make up ruwet, ah! 

Bukan itu pointnya. Terus apa? Hanya ingin membahas sedikit tentang hari ini. What's wrong? Nothing's wrong. Today we celebrate the birthday of most inspiring woman in Indonesia, Mrs. Kartini. Sejauh yg aku tahu dia berjasa dalam mengangkat derajat kaum perempuan pada masanya. Thank to her sekarang perempuan tidak melulu uprek di dapur. Perempuan juga bisa bahkan harus berpendidikan tinggi dan cerdas.

Kenapa perempuan harus berpendidikan tinggi dan cerdas? Karena dari rahimnya nanti akan lahir calon-calon penerus bangsa. Prinsipku saja sih. Karena anak-anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang cerdas

But I was wondering, why it has to be Kartini? Banyak juga perempuan zaman dulu yg hebat dan menginspirasi. Contohnya Cut Nyak Dien. Pahlawan perempuan dari Aceh yg melawan penjajah tengan begitu tegasnya. Atau Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama Indonesia yg mewujudkan ide-idenya secara nyata lewat surat kabar yg diterbitkannya. Atau Dewi Sartika yg berorientasi pada pendidikan kaum wanita. Atau Laksamana Malahayati, Panglima angkatan laut wanita pertama di Indonesia. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Ibu Kartini, kenapa hari kelahiran mereka tidak diperingati juga?

Tapi baiklah, tidak mudah mengubah sejarah. Setidaknya kita harus tahu bahwa banyak juga perempuan Indonesia yang hebat pada masanya selain Ibu Kartini. Dan kita sebagai perempuan harus bangga! Bahkan sampai sekarang juga masih banyak perempuan yg hebat dalam bidangnya masing-masing. Aku mau jadi salah satunya :)

Sebagai penutup, aku mengutip kata-kata salah seorang wanita hebat kepunyaan Indonesia. Kalimat yang sangat menginspirasi dan menegaskan dimana seharusnya takhta kita, wanita, berada. Apa apa yang harus ada dalam diri seorang wanita :)

"Perputaran zaman tidak akan membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan."
-Rohana Kudus-


Chapter 2

0 komentar
...

Ya, aku muak! Kedatanganku ke sini tidak untuk mencari masalah. Atau membuat -karena sepertinya itu lebih tepat. Entahlah tapi kejadian-kejadian ini seperti sudah ada dalam skenario. Tentu saja sudah. Maksudku semua seperti kebetulan. Oke berapa ribu sekolah di negara ini dan aku harus terdampar di sini? Dengan manusia-manusia ini? Sebagian dari mereka memang datang duluan, tapi sebagian lagi datang tidak diundang. Aku tidak peduli seberapa bagusnya tempat ini tapi bagiku seperti panggung teater. Teater murahan.

Aku sedang memakan saladku di kantin ketika pertama kali menyadari Rafa mulai bertingkah aneh. Sejak hari itu dia tak lagi membiarkanku berkeliaran sendiri. Bahkan sering sekali dia kedapatan memandangiku. Tentu saja kulempar dengan apapun. Pensil, bolpen, penghapus, bahkan buku.

Rafa tidak benar-benar menikmati makanannya. Tangannya hanya sesekali menyendok dan memasukkan ke mulutnya. Selebihnya hanya mengaduk-ngaduk tak jelas. Matanya sedang tidak fokus. Sedetik melirik ke kanan, ke kiri, atas, bawah, dan berakhir ke mataku.

“Apa?” tanyanya gusar mendapati tatapan tajamku.

Alih-alih menjawab, aku kembali memakan saladku. Dia aneh sekali. Sama anehnya dengan tatapan seisi kantin. Well, aku terbiasa dengan tatapan macam itu sejak pertama kali datang. Tapi ada yg beda. Mereka seperti siap melempar pisau padaku. Gadis di meja sebelah berbisik-bisik kelewat keras. Mereka membicarakan wajah tampan saudaraku yang berdarah waktu itu. Menyayangkan bekas yang ditinggalkan. 

“Jangan dengerin. Aku tetep ganteng kok. Besok juga ilang lukanya.” Rafa menyeletuk padaku dengan level kepercayaan diri di atas Myung Soo, salah satu pemain di drama favoritku.

Aku kembali meliriknya. Menggenggam garpu di tanganku kuat-kuat dan menatapnya tajam.

“Kamu ngga mau nusuk aku pake itu kan?”

“Patut dicoba.”

...


Part 2: Awake
Page 33-34
on Mirror by Titis Diyah