Chapter 2 (...continued)

0 komentar
#Rafa's POV

...

Besok? Ada apa besok? Sebenarnya seberapa jauh aku menjelajahi negeri lamunanku? Seberapa lama lebih tepatnya. Keriuhan mendadak terdengar. Semua siswa bersiap-siap pulang. Tiba-tiba rasa pekat menyelimuti dadaku. Aku melirik nexusku. Ia sedikit meredup. Kemudian aku menoleh ke kursi Ran. Kosong. Kemana dia? Tasnya, barang-barangnya tidak ada.

Kepekatan ini memudar. Kegelisahan itu menghilang. Ada sedikit rasa manis di ujung tenggorokanku. Ada apa? Kenapa tiba-tiba mood Ran berubah? Di satu sisi aku lega menyadari kemungkinan bahwa dia baik-baik saja. Di sisi lain aku tercekik oleh rasa penasaran.

Ya. Sangat. Perasaan Ran itu unik. Ia bisa berubah-ubah dalam hitungan detik. Membuatku menebak apa yang sedang dialaminya. Bila ia sedih rasanya pekat. Bila ia marah rasanya panas. Bila ia bahagia rasanya menyenangkan dan begitu ringan. Ini sangat memudahkanku memahaminya.

Meski begitu aku tidak bisa merasakannya setiap waktu. Kalau aku punya kemampuan merasakan moodnya, Ran punya kemampuan untuk membatasinya. Aku hanya bisa merasakan saat dia "mengizinkan"ku untuk merasakannya. Jika tidak maka takkan terasa apapun.

Satu tahun yang lalu, saat kejadian itu dia menutup koneksi kami. Aku tidak paham bagaimana caranya. Yang kulihat hanya nexus ini tersambung tapi tak benar-benar melekat padanya. Ada jarak beberapa inci dari tubuhnya. Dan percayalah itu membuatku gila. Hal terakhir yang kurasakan sebelum nexus ini tertutup adalah kepekatan luar biasa yang memenuhi dada dan tenggorokanku. Seperti ada rongga yang menganga lebar. Begitu Ran menyadari saat itu bahwa aku dapat merasakannya dia buru-buru mematikan nexus ini. Dan tak terasa apapun lagi selama masa menyedihkan itu.

Koridor ramai saat pelajaran usai. Lebih ramai lagi ketika aku lewat. Oh aku bersumpah ini kenyataan. Tapi aku sudah terbiasa dengan suasana ini. Kemanapun setiap aku pergi reaksi gadis-gadis selalu sama. Histeris. Takjub. Terkadang aku berfikir punya kemampuan seperti Edward Cullen yang bisa membaca pikiran sehingga aku mengerti apa yang dipikirkan gadis-gadis ini. Semua orang kecuali Bella. Bella.....

"Rafa?" panggil Elsa saat kami berpapasan. "Kenapa senyum-senyum begitu?"

Oh damn! Aku tidak sadar pikiranku membuatku tersenyum-senyum. Pasti Elsa mengira aku tak waras. Tak masalah selama dia tidak mengiraku sedang jatuh cinta. Lebih aman begitu. Tapi aku harus membersihkan nama baikku dari hal bodoh yang barusan kulakukan.

"Hey? What? Oh barusan aku melihat sesuatu yg lucu. Sangat."

"Dimana?" Elsa menoleh-noleh mencari bukti atas kata-kataku. Jelas sekali dia serius. Apa dia curiga? Sial!

"Hey? Hey!" aku mengalihkan perhatiannya. "Di dalam ponselku." Hati-hati, kutambah senyum sedikit. Aku pandai berbohong. Gugup adalah tanda bahwa kau sedang berbohong. Aku tak menunjukannya. Terlalu cerdik. Sempurna tanpa cela.

"Ponsel? Kau tak terlihat memegang ponselmu."

"Forget it." aku menyerah. Siapa saja asal bukan Elsa. Dia itu sejenis gadis yang sangat terus terang. Kadang merepotkan harus menjawab pertanyaannya. Rasa ingin tahunya cukup besar. Dia pernah bertanya secara vulgar tentang ciuman pertamaku. Sejenak itu membuatku tak nyaman. Tapi aku tau dia tidak bermaksud melakukannya.

"Hey did you see my sister?" pertanyaan ringan untuk menalihkan topik.

"Ya. Kami baru bertemu di parkiran. Pasti dia sedang menunggumu di sana. Kelihatannya dia agak terburu-buru. Kemudian datang Rey dan kami mengobrol sebentar. Tapi kemudian aku kembali untuk mengambil barangku yang tertinggal dan meninggalkan mereka berdua. Kurasa tak masalah. Rey bukan orang jahat."

Aku bengong memperhatikannya. Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa menyelesaikan kalimat sepanjang itu dengan satu tarikan nafas? Ditambah gestur-gestur tangannya yang sangat aktif mendetailkan ceritanya. Sebaiknya aku segera menyingkir sebelum kebengongan ini membuatku terlihat bodoh.

"Owh wow... Okay Elsa... Thank you..." ujarku sopan kemudian berlalu.

...

Part 2: Awake
Page 38-41
on Mirror by Titis Diyah


Chapter 2 (...continued)

0 komentar
...

Rafa mengernyit lucu. Berusaha meyakinkan kalau aku tidak akan benar-benar menusuknya. Tapi saat ini, dalam mood seperti ini apapun bisa kulakukan. Entah rasanya aku kenal suasana ini. Suasana dalam diriku. Suasana yang lama kupendam demi berada di sekolah khusus perempuan. Demi menerima perasaan yang meluluhkanku. Tunggu. Apa barusan aku bicara cinta? Baiklah coret bagian itu. Aku tidak merasa perlu membicarakan cinta setelah apa yang kualami. Cinta hanya merepotkan. Setidaknya itulah yang kurasakan. Maksudku cinta, pada seseorang. Seorang laki-laki yang boleh kau cintai.

Aku mendongak menatap Rafa. Dia menatap balik. Kupandangi wajah saudara kembarku itu. Tidak ada kemiripan kecuali sepasang mata bening yang tajam. Pandanganku menyapu seluruh wajahnya. Menatap bekas luka dan memar pada wajahnya yang sempurna. Kemudian aku menyadari satu hal. Sebab dari semua luka itu adalah aku. Rupanya aku telah banyak merepotkannya. Dia selalu berada di sisiku. Tak sedetikpun dia melonggarkan pengawasannya dariku. Sejenak aku mengerti kenapa.

Pandanganku berhenti pada lehernya. Pada sesuatu yang tergantung di sana. Bahkan sampai saat ini? Bodohnya aku baru menyadari. Sedetik kemudian aku menyesal karena kurang memperhatikan saudaraku itu.

"Kamu masih pake itu?"

Dia mengernyit lalu tersenyum. Kentara sekali kegusaran dalam senyumnya. Menggantung di ujung bibir yang terkatup rapat itu. Sejenak tertunduk lalu mengangguk masih dengan senyum beratnya. Senyum itu tak bisa menutupi apapun. Aku dapat merasakan perubahan moodnya yang tiba-tiba. Tapi begitulah Rafa. Dia satu-satunya laki-laki yang kukenal yang pandai menyembunyikan perasaannya. Jika bukan aku, pasti siapapun telah tertipu. Menganggap dia baik-baik saja. Kupingku sampai panas mendengar gadis-gadis di sini membicarakan senyumnya yg amat manis. Bahkan siapapun akan meleleh melihat dia tersenyum seperti sekarang ini. Tapi nyatanya pertanyaanku telah membuka luka lama yang belum tertutup sempurna.

Aku membuang nafas malas. Berharap bisa menyingkirkan keisenganku bermain-main dengan perasaannya. Atau dengan perasaanku -karena tiba-tiba hatiku melembut. Ada rasa empati yang luar biasa tapi tertahan untuk diungkapkan. Seperti ada monster dalam diriku yang menghalanginya.

"Take it off" ujarku terdengar sarkatik sambil memakan saladku.

Rafa tersenyum lagi. Kali ini terlihat lebih tegar. Mungkin geli mendengar kalimatku. Atau jangan-jangan sedang menertawai ekspresiku.

"Jealous much?" senyumnya kini memamerkan jajaran gigi putihnya yang rapi. Aku mengerti. Dia sedang meledekku. Ya aku ingat tingkat kepercayaan dirinya memang di atas rata-rata.

"I'm glad I amuse you." jawabku kesal. "You can't wear that all the time. Someday you should take it off."

"Not today." jawabnya singkat, padat, jelas, dan sangat serius meski masih dengan senyum itu.

...


Part 2: Awake
Page 34-36
on Mirror by Titis Diyah

It Feels Like Home

0 komentar
Hari yang melelahkan. Sangat. Kembali harus kuhapus beberapa jadwal yg telah kususun sejak malam tadi. Kembali mengalah pada tubuhku. Memberinya kesempatan untuk "memperbaiki" stamina setelah kemarin kuliah, rapat dan segala tetek bengeknya seharian penuh. Lelah. Sangat. Tumbang. Bisa jadi. Menyerah. Belum. Aku masih bertahan dengan segala kekacauan di bulan ini. Aku tau aku akan mengalaminya. Setidaknya begitulah "ucap" tulisan-tulisan di time table. Beberapa coretan menandakan "penderitaan berakhir". Tapi hey, ini baru minggu kedua................................

Ini baru minggu kedua dan semangatku mulai kendor. Mungkin aku mulai lelah. Ah rasanya juga selalu seperti itu. Mengapalah aku selalu mengeluhkan hal yang sama setiap saat. Seperti belum berkaca. Mungkin aku terlalu bodoh bahkan untuk menemukan solusinya saja tidak becus. Mungkin juga Tuhan memberikannya dalam porsi yg berbeda. Tapi aku selalu berbaik sangka pada takdir-Nya. Pada skenario-Nya.

Dari ratusan bahkan ribuan skenario-Nya yang telah aku jalani, aku menyukai skenario dimana Dia meletakkanku pada tempat yang kuminta. Pada tempat yang entah dari sudut mana aku sangat yakin akan kuletakkan hatiku padanya. Pada tempat yang sejak awal telah menyilaukan mataku. Bukan. Membuatnya berbinar lebih tepatnya. Pada tempat yang membuatku menerka-nerka "keasyikan" yang akan kudapat dan juga manfaatnya bagi skenario-Nya untukku di masa depan. Ya, tempat itu adalah Kementerian Sosial Badan Eksekutif Mahasiswa FK UNS :)

Aku baru saja pulang dari desa binaan kami saat menulis catatan ini. Desa? Iya desa. Kami baru saja membicarakan program kerja yang akan dijalankan di sana bersama kader-kader desa. Saat berjalan pulang dari mushola kami disapa adik kecil, siswa di SD tempat kami memberikan pengajaran. Kemudian kami membaur bersama ibu-ibu kader. Bercanda, berdiskusi, bercerita, berkeluh kesah, berfoto. Bahkan tawaku pecah saat seorang ibu menyeletuk "Aku mau di sini kok foto sebelahnya Mas Mappa." Setidaknya ibu itu tidak salah pilih. Hahaha :D

Rasanya? Tak terungkapkan. Menyenangkan sekali bisa berbaur bersama mereka, mendapat kepercayaan mereka, dukungan mereka, dan disisi lain, kasih sayang mereka :) Betapa lucunya mendengarkan gurauan mereka yang kadang mencairkan suasana. Atau celetukan Ari yg tidak terima ibu-ibu lebih memilih berfoto sebelah Mas Mappa daripada di sebelahnya. Rasanya tidak ada tembok pembatas seperti yg selama ini kami takutkan. 

Rasanya membuatku merindukan rumah...

Aku rindu celetukan bubun yang seperti celetukan ibu-ibu itu. Lucu. Memecah tawa. Adalah kesedihan dan kesepian yg pertama kali terusir. Aku rindu cubitannya di hidungku dan candaannya "kok kamu cantik sih mba niru siapa?" yang kemudian aku jawab "niru mbah uti lah siapa lagi." lalu dengan gemasnya bubun mencubit pipiku sambil tertawa.

Atau saat aku menyeletuk pada bapak "Pah titis cantik yaa?" yang kemudian dijawabnya "Cantik tapi ngangkat sapu aja belum kuat." lalu aku merengek sambil tertawa dan meninju-ninju perutnya. 

Atau saat dede dengan santainya tiduran di pangkuanku menonton TV sambil mengomentari setiap jenis tayangan yg ditontonnya. Berteriak sendiri, kemudian uring-uringan tidak jelas. Kadang menyeletuk "Mba aku sama itu sih ganteng mana?" 

Aku rindu rumah...

Saat segala keruwetan bercampur jadi satu aku hanya bisa menangis kelelahan. Rasanya berat bahkan hanya untuk bernafas sekalipun. Dari segala kegilaan di otakku yang terpikir hanya aku perlu refreshing. Sesuatu yg bisa menyegarkan pikiranku. Atau setidaknya melonggarkan hariku sehingga aku bisa bernafas sedikit lega. Dan ternyata hal-hal kecil di sini bisa mewujudkannya.

Hal-hal kecil seperti SMS dari Mba Alifa yg seringnya berisi "Dek Tis, Dek Med, Dek Ari, Dek Get, Dek Adet, kalian lagi apa? Tetiba kangen kalian." Rasanya seperti punya kakak perempuan yg benar-benar menyayangi adiknya. Siapa orang yg tidak senang diperhatikan?

Atau gurauan Mba Laras yg kekanakan dan lucu. Omelannya, semangatnya, nasihatnya. Seperti seorang ibu yg pusing mengejar-ngejar anaknya yg bandel-bandel. Yg dikejar malah tertawa-tawa senang dengan ulah ibunya. Iya menteri kami, Mama Laras.

Atau celetukan Bang Ipin yg selalu menjurus pada pembullyan massal. Haha jahat. Entah darimana dia belajar melawak, tapi celetukannya selalu menyegarkan. Dari segala hal dia seperti sejenis motivator otodidak. Aku banyak belajar darinya terutama masalah LDR. Karena sejauh ini kelihatannya LDRnya berhasil.

Atau kenarsisan Mas Yasyfie yg tersohor ke segala penjuru FK. Entah makhluk jenis apa dia aku pun tidak paham.

Atau muka lusuhnya Mas Mappa yg jadi bahan candaan karena kadang mandi dan tidak mandi itu sama saja. Ada yg tau dimana yg jualan setrikaan wajah?

Atau lugunya Mba Naila yg kadang terlambat menertawakan sesuatu yg lucu karena tidak mengerti. Kemudian minta dijelaskan, kemudian baru tertawa saat yg lain sudah selesai tertawa.

Atau baiknya Mba Ida yg selalu jadi bandar Drama Korea. Aku tak perlu repot mendownload atau mencari-cari orang yg punya Drama Korea terbaru, dia pasti selalu update!

Atau absurdnya Memed yg kadang krik tapi membuat kami tertawa. Kostnya adalah tempat penampungan saat kostku sudah dikunci.

Atau polosnya Ari yg selalu jadi bulan-bulanan kami semua. Polos, sangat. Dia seperti mainan kesukaannya Bang Ipin. Mudah percaya pada segala yg dikatakannya. Dan jadilah kami tertawa atas kepolosannya yg tidak sadar sedang dibohongi.

Atau nyebelinnya Gegget yg selalu menjawab setiap kata yg aku ucapkan. Atau menirukan kata-kataku. Atau mengataiku lebay.

Atau ekspresi datarnya Adet yg kadang mengundang kebingungan apakah dia sedang galau atau bahagia. Dia sering membuat kami menjadi dukun.

Tempat berkeluh kesah, pemberi semangat, penghibur saat aku mulai lelah. Saat aku tersesat dan tenggelam dalam segala masalah dan kegalauan. Saat aku merasa sendiri di negeri antah berantah. It feels like home...