Rabu, 8 Januari 2014. Hari ini. Setelah mengecek agenda dalam memori di otak, aku tau hari ini akan cukup padat. Setengah sadar aku menghitung dengan jari apa-apa yang akan kulakukan hari ini. Mengurutkan setiap kegiatan seurut mungkin agar tak ada yg tertinggal. Kuliah, rapat, survey, mencuci, menyetrika sampai mengisi bensin. Sudah kususun rapi dalam agenda otakku.
Tiba-tiba kuputuskan untuk menghapus beberapa...
Rupanya badanku sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Rupanya ia tau benar cara berontak untuk meminta haknya. Suhu tubuhku meninggi dan bersin berkali-kali. Salahku memang. Kemudian kususun ulang agendaku hari ini. Pekerjaan bersih-bersih ku-cancel. Rapatpun kucancel. Kusisakan kuliah dan survey. Jadilah aku melanjutkan tidurku sampai alarm berbunyi.
Detik, menit, jam pun berlalu. Kuliah done! Satu agenda lagi. Survey. Ya hari ini aku jalan-jalan ke desa pinggir kota solo. Ini benar desa, tapi luasnya membuatku bertanya dua kali. Desa? Satu desa dengan 5 dusun dan tiap dusun jaraknya lumayan. Kami mendatangi setiap kepala dusunnya untuk mendapatkan data guna menentukan program yang akan kami terapkan di sana setahun kedepan bersama kemensos. 5 kepala dusun alhamdulillah berhasil kami datangi. Mereka ramah. Keramahan khas Jawa yang sesekali mengundang canda tawa pengakrab suasana. Berbagai kejadian seru, lucu, melelahkan bahkan sampai yg tidak pantas tertulis di sini kami alami.
Tapi, hey...
Ada satu yang menarik perhatianku. Saat hendak berpamitan dengan kepala dusun pertama yg kami datangi, perhatianku dicuri oleh 4 orang anak kecil yg sedang bermain di halaman rumah Pak Kadus itu. Umur mereka dibawah 5 tahun. Keempatnya laki-laki dengan tinggi yang sama dan postur gempal khas anak-anak yg menggemaskan. Tiga orang berambut agak gundul dengan satu orang berwajah sangat menggemaskan. Agak chinese dan pipinya benar-benar merona merah. Seorang lagi berambut klimis. Ketiganya seperti sedang ber-hompimpa menentukan sesuatu. Sedangkan si kecil imut tadi terus memperhatikan kami sambil tersenyum-senyum malu dan mengenyot jarinya tidak mempedulikan ketiga temannya yg sedang berdiskusi. Tampaknya ia lebih tertarik melihat kakak-kakak yg entah sedang apa pikirnya. Terlebih lagi ia (mungkin) baru pertama kali melihat motor besar keren berwarna hijau seperti motor pembalap Valentino Rossi di TV walaupun warnanya berbeda. Ah sungguh ekspresi penasarannya benar-benar menggemaskan!
Anak berambut klimis sedang men-cap-cip-cup tangannya dan teman-temannya dengan mantra yang berbunyi: "Ling ling ling siapa yang jadi maling?" dalam bahasa jawa. Capcipcupnya ternyata jatuh pada tangan anak yang paling kurus. Lucunya tiba-tiba si anak kurus tadi ngambek dan menyeletuk: "Aku moh lah jadi maling. Lah aku ngga jadi ikut main lah." sambil mundur beberapa langkah dengan ekspresi kesal yang terlihat serius.
Bingung dengan sikap temannya itu, Si Klimis mengernyit. Seperti tak rela temannya pergi ia pun mengalah. "Yaudah yaudah kamu ngga jadi maling. Ayo ulangi." ajaknya sambil menarik kembali Si Kurus ke lingkaran. Dia kembali men-cap-cip-cup tangannya dan tangan kedua temannya namun dengan mantra yang berbeda. "Si si si siapa yang jadi polisi?" Capcipcupnya jatuh lagi pada Si Kurus. Kali ini sepertinya ia menerima tugasnya dengan senang. "Kamu jadi polisi, kamu jadi maling. Ayo lariiiii!" vonisnya sambil menunjuk kedua temannya itu.
Kemudian mereka berlarian berputar-putar. Si Imut? Ketika mendengar instruksi untuk berlari, perhatiannya bubar dan ia ikut berlari dengan teman-temannya sambil tertawa-tawa senang. Ada yang aneh dalam permainan ini. Si Kurus yang menjadi polisi dan teman-temannya dikejar-kejar oleh maling. Dimana logikanya? Dan aku juga tidak tau apa peran Si Imut dan Si Klimis sehingga mereka ikut berlari menghindari kejaran anak yg berperan sebagai maling.
Tapi begitulah dunia anak-anak. Kerajaan mereka tak ber-Raja. Tak berperaturan. Yang ada semuanya bahagia. Tak ada kemarahan berlarut-larut. Tangis dan tawa dengan mudahnya berganti. Ringan sekali. Mereka seperti tak memiliki beban. Bebas, lepas, tanpa batas. Dunia itu milik mereka. Mereka hanya membagi kebahagiaan. Kalaupun ada amarah, tak sampailah berhari-hari.
Senyumku tak henti mengembang memperhatikan mereka. Sesaat aku melayang ke masa aku seusia mereka. Bahagia. Sangat. Mamas-mamas yang selalu bermain bersamaku. Aku tak punya saudara perempuan. Cucu kesayangan eyang uti yang setiap sore pulang dengan badan kotor yg kadang berlumpur dan sering terdapat luka baru di lutut atau sikunya. Masih kuingat dengan jelas bagaimana beliau marahi mamasku yg telah menjadikan cucu perempuan kesayangannya kumuh seperti itu. Potongan rambut yang persis seperti mamasnya. Harus seperti mamasnya. Harus berangkat sekolah dengan mamasnya. Harus ikut main dengan mamasnya. Ah, aku rindu...
Ketika kami meninggalkan rumah Pak Kadus mereka melambaikan tangan sambil tertawa-tawa. Benar-benar hari yang melelahkan dan menyenangkan. Ini bukan tulisan tentang perjalanan raga menempuh jarak berkilo-kilo meter. Ini tulisan tentang perjalanan hati yang menempuh jarak tak terhingga menuju destinasi yang tak berbatas :)